Saat-saat sebelum bom meledak di Hotel J.W Mariott

saat-saat sebelum bom meledak di Hotel Ritz Carlton

Bom yang ditemukan di Kamar No. 1808 Hotel J.W Mariott

Bila diperbolehkan beropini di blog saya, mungkin ijinkan saya menyampaikan sebuah pendapat analisa tentang bom yang terjadi kemarin hari Jum’at di kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

Mungkin pihak aparat kepolisian dan Densus 88 bisa menampung aspirasi masyarakat untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan pelacakan dan pemetaan apa yang sebenarnya terjadi kemarin di Jumat Kelabu Kota Jakarta, jika saya menyebutnya dengan Bom Mariott 2.

Jika menyimak pemberitaan di televisi, melihat serangkaian terjadinya bom, maka bolehlah kita sebagai rakyat kecil, bodoh, namun geram juga melihat aksi kejahatan di negeri sendiri mempunyai kesimpulan sendiri dalam menganalisa kejadian pagi itu.

Jika si pelaku menyewa sebuah kamar di Hotel J.W Mariott yaitu kamar 1808 (si penyewa ngotot menginginkan kamar itu, alasannya sudah reservasi melalui telepon) bisa dijumlah menjadi angka 17 dimana merupakan tanggal si pelaku melakukan aksinya.

Seandainya komplotan ini merencanakan aksi mereka seperti ini, bisa dipastikan di kamar tersebut terjadi kegiatan yang luput dari pengawasan pihak manajemen Hotel J.W. Mariott. Dalam hal ini peracikan dan perakitan bom, jika benar mereka merakitnya di dalam kamar tersebut.

Adapun melihat rekaman di televisi yang memperlihatkan kedua pelaku dengan mudahnya dan tanpa beban memasuki TKP, boleh saya menyimpulkan mereka berdua kemungkinan hanya merupakan kurir yang dijadikan mortir oleh si pelaku. Dengan kata lain, mereka berdua tidak tahu apa-apa dengan apa yang akan terjadi. Pelaku di Hotel J.W. Mariott dengan tenang turun dari lift menuju restoran dengan membawa 2 buah tas, satu digendong dan satu lagi diseret layaknya travel bag kebanyakan. Dia berdalih akan bertemu dengan bosnya didalam restoran tersebut, dan beberapa saat kemudian bom pun meledak.

Jika melihat pelaku di Hotel Ritz Carlton yang muncul dari tangga lorong yang menghubungkan kedua hotel tersebut, bisa dipastikan dia keluar dari Hotel J.W. Mariott menuju Hotel Ritz Carlton lebih awal dari pelaku pertama. Dengan rentang waktu yang hanya beberapa menit padahal jarak kedua hotel tersebut lumayan cukup jauh, bisa dikatakan si pelaku ini tidak tahu dengan apa yang terjadi di Hotel Mariott.

Jika boleh dianalisa keduanya bahkan tiga dengan apa yang ditemukan di dalam kamar No. 1808 Hotel J.W. Mariott, ketiganya menggunakan remote control yang pengendalinya tidak begitu jauh dari kedua hotel. Mengingat kedua hotel tersebut menghadap lapangan luas di kawasan Mega Kuningan, bisa dipastikan juga si pelaku berada bersama para penghuni hotel dan karyawan yang berhamburan keluar menyelamatkan diri, bedanya dia sudah berada disana.

Wajar jika si pelaku di Hotel J.W. Mariott merasa nyaman, karena dia ditugaskan “menemui bos” di tempat itu. Wajar si pelaku di Hotel Ritz Carlton sempat memesan kopi, karena keduanya menurut saya tidak tahu akan apa yang ada di tas bawaannya. Keduanya diintai dari luar hotel oleh pelaku eksekutor yang siap meledakkan pada saat yang tepat keduanya berada di TKP. Bisa dipastikan juga kedua “kurir” ini adalah orang baru yang bisa saja, merupakan hasil wawancara penerimaan kerja melalui media massa dengan tugas awal membawa barang-barang itu untuk diberikan pada relasi atau bosnya. Mungkin? Bisa jadi…… who knows…. Toh keduanya sudah meninggal. Kita tidak bisa menghakimi mereka sebagai pelaku yang benar-benar tahu dengan apa yang dihadapinya. Mereka juga manusia yang mempunyai hak untuk pembenaran. Bisa jadi mereka berdua adalah orang tak berdosa yang sengaja dikorbankan. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi pada Bom Bali dan Bom depan Kedubes Australia. Mereka sadar membawa bom itu.

Namun ada satu yang seharusnya menjadi hal yang harus dipertimbangkan dan menjadi sangat krusial. Para pelaku ini berharap mereka bisa meruntuhkan lambang kekuasaan AS dimana dalam hal ini “Hotel J.W. Mariott” seperti menara kembar WTC di New York. Mereka ingin meruntuhkannya namun dengan cara meledakkan bom yang berada di kamar No. 1808. Artinya kamar ini berada di lantai 18 gedung tersebut.

Tetapi, mereka belum pernah melakukan percobaan mengendalikan remote secara vertikal ke atas gedung. Mungkin seharusnya menggunakan timer, tetapi mereka pun belum pernah melakukannya selama ini. Dari serangkaian kejadian teror bom selama ini, belum dipastikan ada yang menggunakan timer. Maka hal ini merupakan suatu kecerobohan dan objek coba-coba semoga berhasil, namun ternyata lokasinya terlalu jauh dan tidak bisa terjangkau. Maka kini, mereka meninggalkan jejak.

Jadi, pelaku eksekutor pada saat kejadian mungkin masih berada dan berbaur dengan orang-orang yang berbaur di lapangan depan kedua hotel itu. Semoga CCTV dapat merekam dan menemukan sesaat sebelum bom meledak, adakah orang yang mencurigakan di lapangan tersebut.

Sekali lagi, ini hanya suatu analisa yang gak penting namun ya….. namanya juga blog. Boleh dong, kita juga berasumsi. Hehehehe………. Terima kasih. Ini hanya untuk pembelaan pada kedua orang yang selama ini dituduh melakukan bom bunuh diri, padahal keduanya belum tentu menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Mudah-mudahan jika benar, keduanya adalah orang baik dan tidak berdosa, diterima disisi-Nya. Dia merupakan korban kebiadaban pelaku bom, dan mesti menanggung akibat tuduhan seperti itu. Namun jika memang benar, keduanya adalah pelaku. Itu sudah bukan urusan kita. Itu urusan yang di atas.