It is true that monlcer online store we have been leading a difficult moncler life, for we need not only to be discount moncler jackets under various external pressures, but also to be in the moncler sale face of internal perplexities. Even a mere moncler jackets glance would make http://www.monclergo.com/ you moved and inpired.
Merah Putih - Trilogi Episode Perjuangan Pertama Indonesia
Last Updated on Friday, 21 August 2009 08:24 Written by Arif Lukman Sunday, 16 August 2009 10:39

Satu lagi, karya anak bangsa Indonesia di Bulan Agustus 2009 dihadirkan sebagai hadiah ulang tahun Republik Indonesia yang ke-64. Film besutan Roedy Soejarwo ini digarap ala hollywood di suguhkan dalam 3 cerita berantai atau merupakan trilogi. Inilah trilogi pertama dari "Perjuangan Indonesia".
MERAH PUTIH
“UNTUK MERDEKA, MEREKA BERSATU”
DRAMA PERANG BERGAYA HOLLYWOOD YANG MENGINGATKAN INDONESIA
TENTANG PERSATUAN, PENGORBANAN DAN NASIONALISME PARA BAPAK BANGSA
FILM BERTUJUAN MENDIDIK KAUM MUDA, MEMPERBAHARUI SEMANGAT NASIONAL DAN MENINGKATKAN CITRA INDONESIA DI MATA DUNIA
Jakarta, 3 Agustus 2009 – Dari Blitzmegaplex Grand Indonesia, produser eksekutif Rob Allyn, penulis New York Times bestselling, sekaligus juga produser, sutradara dan eksekutif media yang sudah berpengalaman kelahiran California, berbagi tentang ide awal pembuatan film MERAH PUTIH, bagian pertama dari “Trilogi Merdeka” yang mengangkat fiksi tentang sekelompok kadet yang menjadi gerilyawan revolusioner pada tahun 1947 selama masa Revolusi Indonesia. Film bermula sebenarnya sejak 5 tahun lalu ketika Rob bertanya pada teman dekat sekaligus rekan bisnisnya, Hashim Djojohadikusumo, tentang dua buah foto lama potret dua pemuda berseragam yang digantung di dinding. Hashim menerangkan bahwa foto tersebut adalah gambar dua pamannya (saudara laki-laki Sumitro Djojohadikusumo, salah satu Bapak Bangsa Indonesia dan Bapak Ekonomi Indonesia yang turut berjuang dalam memenangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa). Hashim yang merupakan salah satu pengusaha terkemuka Indonesia menceritakan pada Rob tentang bagaimana kedua pamannya tersebut terbunuh ketika mengambil alih persenjataan Jepang pada masa awal revolusi, ketika Jepang bersiap untuk menyerahkan penguasaan Belanda kembali ke Inggris, sebagai Sekutu yang mengawasi Belanda.
Rob serta merta menjawab, “Cerita itu bisa menjadi salah satu film Hollywood yang luar biasa!” Hashim dan Rob sepakat bahwa cerita tentang kaum muda Indonesia yang gagah berani dan bersedia mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan Indonesia haruslah mulai diceritakan kembali kepada generasi muda Indonesia – dan juga kepada dunia di luar Indonesia dimana sangat sedikit orang yang mengetahui tentang perjuangan panjang dan berdarah Indonesia merebut kemerdekaan. “Revolusi untuk membebaskan negara kita, adalah hal yang sangat dekat bagi keluarga saya dan saya sendiri, karena kami kehilangan dua paman kami, Lettu R.M. Subianto Djojohadikusumo dan Kadet R.M. Sujono Djojohadikusumo, dalam peperangan di Lengkong pada tahun 1946, dan kami besar dalam tradisi ayah kami, Sumitrodan perjuangannya untuk menyatukan Indonesia sebagai salah satu juga pendiri bangsa ini,” jelas Hashim. “Oleh karenanya, bagi PT Media Desa, merupakan kehormatan bagi kami untuk bersama dengan Margate House memproduksi film pertama dari rencana Trilogi Kemerdekaan ini, sebuah saga tentang para calon tentara yang bergabung bersama untuk menjadi pejuang gerilya kemerdekaan kita meski memiliki perbedaan agama, etnis, kelas sosial, maupun budaya.”
Rob menambahkan, “Kami bersiap untuk membuat film saga berlatar sejarah dengan tradisi Hollywood, mengkombinasikan bakat-bakat terbaik yang dimiliki perfilman Indonesia yang sedang mekar dengan special effects kelas dunia dan nilai produksi sebuah drama perang klasik sehingga kita bisa mengangkat cerita perang yang penting namun dilain pihak kurang dikenal ini kepada masyarakat dunia. Kami berharap film ini hadir pada saat yang tepat, untuk mengingatkan Indonesia dan dunia bahwa penduduk negara ini telah berkorban banyak demi kemerdekaan, persatuan, dan toleransi beragama. Citra Indonesia di mata dunia akan meningkat jika penonton film di luar negeri mengetahui lebih banyak tentang budaya dan identitas nasional Indonesia yang sesungguhnya – sebuah tempat dimana agama-agama dominan dunia dihargai, dimana anak-anak mudanya dengan gagah berani berjuang untuk meraih kemerdekaan dan kebebasan dari dominasi kolonial, dan dimana para pahlawan di tahun 1940-an telah mengorbankan semuanya dan mengatasi perbedaan yang besar dalam hal etnis, kelas sosial, dan agama untuk bersatu padu demi memenangkan kemerdekaan”
Persiapan film dimulai selama lebih dari 2 (dua) tahun dengan riset sulit dan mendalam. Skenarionya kemudian ditulis oleh time anak-ayah yaitu Conor Allyn yang telah membaca memoar Jenderal Nasution yang ditulis oleh tentara revolusioner bertahun lalu ketika kuliah, dari koleksi Southeast Asian studies di Georgetown Univerity, Washington, D.C., dan ayahnya Rob, Allyn, penulis New York Times bestselling sejarah non-fiksi dan intrik politik (REVOLUTION OF HOPE, Viking Press, 2007; FRONT RUNNER, Crown/Random House, 1990). Produser eksekutif Jeremy Stewart mewawancarai veteran revolusioner yang masih hidup, sementara Conor dan tim produksi lainnya mengunjungi musium militer, arsip nasional dan bahkan tempat-tempat pertempuran dahulu untuk menggali ide visual. Rob dan Jeremy membuat karakter dan premis dasar untuk filmnya; Conor melakukan riset sejarah yang didokumentasikan, membuat ceritanya dan menulis draft pertama skenarionya; dan Rob fokus pada dialog, humor, dan konflik dramatis antara karakter-karakter untuk menggambarkan tema-tema berkaitan dengan keberanian, kepemimpinan, dan persaudaraan diantara para tentara yang bersatu dan berjuang melawan hal yang sama. Skenario kemudian harus melalui berbagai hal mulai dari dibaca oleh orang-orang Indonesia, senior dalam bidang perfilman, penerjemah, dan pengecekan kebenaran fakta sejarah, yang berkulminasi pada kontribusi dari para aktor yang membantu memperbaiki Bahasa Indonesia terjemahan yang formal ke dalam bahasa percakapan yang cocok bagi pejuang-pejuang muda. Conor Allyn yang merupakan produser sekaligus penulis berkata, “Sudah merupakan proses sehari-hari di lokasi shooting antara saya, Pak Yadi, dan script supervisor (Dewi Beck dari Margate House) dan para aktor untuk menerjemahkan makna dialog ke dalam bahasa yang tidak sepenuhnya benar-benar digunakan pada tahun 1947, tapi maknanya dipahami dalam konteks penonton Indonesia masa kini – dan beberapa kontribusi terbaiknya diberikan oleh orang-orang seperti Lukman , Rifnu, Sara, Yadi dan para pemain lainnya, yang tidak takut untuk berpendapat dan mengusulkan kata-kata bahkan kalimat, lelucon dan gesture berbeda bila memang itu diperlukan supaya karakter mereka lebih masuk dalam konteks Indonesia. Tanpa bermaksud menceritakan keseluruhan film, saya hanya akan mengatakan bahwa kita terkadang menulis ulang lagi di lokasi, tergantung pada arahan baru yang kita dapatkan pada malam sebelumnya dan juga pada perubahan radikal yang diusulkan pemain. Kami memberikan skenario yang ditulis ulang lagi itu, lalu Lukman, Donny, dan seluruh aktor menyatukan pemikiran mereka dan mengatakan pada Yadi dan kami,’kita bahkan akan membawa ini lebih jauh,” maka kami bersama-sama melakukan itu – dan hasilnya sangatlah luar biasa!”
Setelah menyelesaikan skenarionya setahun lalu pada Agustus 2008, para pembuat film di Margate House kemudian mengumpulkan para veteran industri perfilman Indonesia terkemuka. Melalui saran-saran kawan lama yang juga produser film/televisi, Gary Hayes, Rob dan Jeremy memilih Yadi Sugandi, penata sinematografi berpengalaman yang telah bekerja dengan brilian mengerjakan berbagai proyek bersama Margate House, untuk menjadi sutradara film ini. “Yadi adalah seorang yang jenius dalam hal ekspresi visual, kami tahu bahwa dia akan bisa membawa sensibilitas orang Indonesia yang sesungguhnya sekaligus gambar-gambar indah untuk menceritakan kisah yang telah kami buat yang menggugah secara visual sekaligus tepat bagi Indonesia, sehingga filmnya akan langsung masuk ke jantung hati para penonton baik di Indonsia, maupun juga menunjukkan yang terbaik dari Indonesia kepada dunia.”
Rob dan Jeremy kemudian menonton film “GIE” dan menggandeng editor, Sastha Sunu, dan komposer, Thoersi Argeswara, yang baru saja kembali dari perjalanannya di Cina dimana Beijing Philharmonic Orchestra AISA bermain untuk scoring musik MERAH PUTIH. “Saya khawatir, kami tanpa rasa malu telah menjarah bakat-bakat terbaik perfilman Indonesia yang telah dipupuk oleh pembuat film luar biasa seperti Riri Riza, Mira Lesmana, Garin Nugroho dan pembuat film hebat lainnya yang ada dalam perindustrian perfilman Indonesia yang sedang naik daun,” aku Rob. “Kami pengagum mereka dan sangat menghargai pencapaian mereka, mereka telah menjadi teman-teman terbaik bagi produksi kami dan membiarkan kami bersandar pada bahu para jenius tersebut. Saya harap, kami bisa memberikan sumbangan sebuah film yang berharga dan setara dengan standar yang dimiliki mereka.”
Para produser juga mendapuk Penata Artistik Iri Supit, yang memiliki koleksi terbaik properti dan pengetahuan akan periode sejarah yang menjadi latar belakang film, dan kami juga mendapuk ahli perfilman Hollywood yang terkenal: Guru special effects Inggris Adam Howarth (SAVING PRIVATE RYAN, BLACKHAWK DOWN, HARRY POTTER AND THE SORCERER’S STONE), Sutradara Bidang Laga, veteran stunt supervisor kelahiran Inggris Rocky McDonald (MISSION IMPOSSIBLE II, THE QUIET AMERICAN), Make-Up dan Visual Effects Artist Rob Trenton dari London (BATMAN - THE DARK KNIGHT), dan Ahli Persenjataan John Bowring, orang Australia yang telah menangani persenjataan untuk film-film di Vietnam, Thailand, the Philippines, Japan dan berbagai belahan dunia (THE MATRIX, THE THIN RED LINE, AUSTRALIA, X-MEN ORIGINS:WOLVERINE).
Dibesut dalam format film 35-millimeter film, MERAH PUTIH menampilkan ensemble cast bintang top dan berbakat Indonesia: Lukman Sardi sebagai Muslim yang taat dan pendiam Amir (LASKAR PELANGI, QUICKIE EXPRESS, 9 NAGA, GIE), Donny Alamsyah sebagai orang Kristen yang keras kepala Tomas (FIKSI, 9 NAGA, GIE), Darius Sinathrya sebagai playboy elit yang sombong Marius (UNGU VIOLET, D’BIJIS, NAGA BONAR JADI 2, LOVE), Zumi Zola sebagai priyayi patriot Soerono (KAWIN LARIS), dan T. Rifnu Wikana sebagai orang Hindu anak jalanan Dayan (KADO HARI JADI, LASKAR PELANGI). Film ini juga dibintangi Astri Nurdin sebagai istri Amir Melati dan memperkenalkan aktris yang mengenyam studi akting di London dan Hollywood Rahayu Saraswati sebagai kakak Soerono Senja.
Casting dimulai 18 bulan lalu ketika Margate House melakukan 5 hari shooting tes dengan kamera HD yang dilakukan di studio alam Depok dan daerah Kota untuk mempertimbangkan aktor-aktor Indonesia untuk peran-peran yang ada dalam film. “Kami membayangkan satu seri gambar, menulis sedikit dialog dan membuat story board dari sekitar 37 scenes, namum semuanya sungguh improvisasi, seperti kumpulan remaja bermain dengan kamera video milik ayahnya,” Rob mengingat. “Namun Lukman, Donny dan Sara seperti benar-benar membakar lensa. Mereka aktor-aktris brillian dan kita langsung tahu bahwa merekalah yang cocok memainkan aksi kepahlawanan besar seperti dalam film klasik drama perang gaya Hollywood.” Casting pemeran lainnnya memakan waktu lebih dari setahun sampai akhirnya produser menemukan Darius, Zumi dan Rifnu untuk melengkapi kumpulan kadet, ditambah Astri dan Rudy Wowor sebagai Mayor Belanda Van Gaartner. “Rifnu memiliki ekspresi mata ang luar biasa yang seperti mencuri seluruh kamera dan menceritakan anda semua yang dialami karakternya,” ujar Rob. “Sementara Darius waktu itu hanya berjalan melintas di ruangan dan ketika dia menjabat tangan saya dan memperkenalkan dirinya, saya langsung bisa merasakan... Baik, inilah Marius!’”
Berlatar sejarah otentik perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan pada tahun 1947 ketika terjadi Agresi Militer Belanda pimpinan Van Mook yang menyerang jantung kaum republik di Jawa Tengah, MERAH PUTIH bercerita tentang sekelompok pejuang kemerdekaan yang harus bersatu untuk bertahan dari pembunuhan, berjuang sebagai pejuang gerilya, untuk menjadi anak-anak bangsa sesungguhnya, terlepas dari konflik pribadi yang tajam dan perbedaan yang besar dalam kelas sosial, suku, daerah asal, agama, dan kepribadian.
Comments (12)
-
A true love moncler clothing is what doesn‘t strive for busyness, for extravagance, for luxury, and moncler outewear moreover for hokum.There is someone that moncler coats is coming or passing away in your moncler life around the clock, so you may lose sight of those moncler jackets seen, and forget those http://www.monclerus.com/ remembered.
-
Some may be wicked, and some may be ugg boots sale despicable. Only when I put myself ugg boots in their position did I know they are more cheap ugg boots miserable than I. So forgive all that you have met discount ugg boots , no matter what kind of cheap ugg boots sale persons they are. From that you would get angry with your http://www.goodfurboots.com/ friends, we can conclude you sitll care about the friendship between you.
-
Happiness is accompanied by ugg boots sale sorrow, and it would turn discount ugg boots sunny after rain as well. If rain remains after rain and sorrow ugg boots remains after sorrow, please take those ugg australia boots farewells easy, and turn to smilingly look for yourself who is never to appear http://www.topuggworld.com/ .
-
Happiness christian louboutin sale is like a pebble dropped into a christian louboutin pool to set in motion an ever-widening circle of christian louboutin shoes ripples. As Stevenson has said christian louboutin boots, being happy is a tory borch shoes duty. There is no exact definition of the http://www.christianlouboutinshoestore.com/ word happiness.
-
Wisdom appears in tory burch contradiction to itself, which is a trick tory burch wallets life plays on philosophy of life.Complaints are the greatest tory burch handbags offerings that God obtains from human beings, as well as the most tory burch boots faithful prayers human beings http://www.toryburchus.com/ might utter to God.
-
Maybe God wants us to meet cheap ed hardy clothing sale a few wrong people before meeting the right womens ed hardy clothing one, so that when we finally meet the ed hardy online shop person, we will know how to be grateful ed hardy clothing .Do not cry because it is mens moncler jackets over, smile because it happened http://www.edhardy-buy.com/ .
-
I would not care success christian louboutin shoes or failure, for I will only struggle louboutin sale ahead as long as I have been destined to the discount christian louboutin shoes distance. I would not care the christian louboutin booties difficulties around, for what I can leave on the christian louboutin boots earth is only their view of my back since I have been marching toward the http://www.louboutinszone.com/ horizontal.
-
Choosing the right pair of cheap louis vuitton shoes plays a crucial role in enhancing your outward appearance. Therefore, it is important to choose the shoes after examining it properly. Over the years, there have been different designs mostly from European influences but also with Continental wears. You cannot go wrong with a louis vuitton purses black or brown pair, but you can also go with burgundy, cordovan or even white when it suits your top. Nowadays, louis vuitton shoes due to the large amount of production, shoes prices have declined considerably. Now, you can get top brand shoes such as Nike, puma, prada and much more at cheap rates. Cheap Gucci shoes are made up of high quality materials that provide flexibility and comfort to the users.One striking aspect of celebrity culture is that the people who can afford to drop $1100 on a designer bag are typically the ones getting them for free. Case in point, Rachel Zoe just got a monogrammed Speedy from Louis Vuitton with new b...
-
Choosing the right pair of cheap louis vuitton shoes plays a crucial role in enhancing your outward appearance. Therefore, it is important to choose the shoes after examining it properly. Over the years, there have been different designs mostly from European influences but also with Continental wears. You cannot go wrong with a louis vuitton purses black or brown pair, but you can also go with burgundy, cordovan or even white when it suits your top. Nowadays, louis vuitton shoes due to the large amount of production, shoes prices have declined considerably. Now, you can get top brand shoes such as Nike, puma, prada and much more at cheap rates. Cheap Gucci shoes are made up of high quality materials that provide flexibility and comfort to the users.One striking aspect of celebrity culture is that the people who can afford to drop $1100 on a designer bag are typically the ones getting them for free. Case in point, Rachel Zoe just got a monogrammed Speedy from Louis Vuitton with new b...
-
Choosing the right pair of cheap louis vuitton shoes plays a crucial role in enhancing your outward appearance. Therefore, it is important to choose the shoes after examining it properly. Over the years, there have been different designs mostly from European influences but also with Continental wears. You cannot go wrong with a louis vuitton purses black or brown pair, but you can also go with burgundy, cordovan or even white when it suits your top. Nowadays, louis vuitton shoes due to the large amount of production, shoes prices have declined considerably. Now, you can get top brand shoes such as Nike, puma, prada and much more at cheap rates. Cheap Gucci shoes are made up of high quality materials that provide flexibility and comfort to the users.One striking aspect of celebrity culture is that the people who can afford to drop $1100 on a designer bag are typically the ones getting them for free. Case in point, Rachel Zoe just got a monogrammed Speedy from Louis Vuitton with new b...
-
|2012-05-12 09:48:23 damonI hate the Burberry Outlet Stores,because they send the copys of burberry to me,especially the Burberry Scarf come with a poor quality. I will never buy anything from the Burberry Outlet website.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1



